Skip to main content

Hai, Boleh Cerita Disini?

Kenapa orang lain memaksa kita terus agar punya anak?

Tulisan ini dibuat sebagai gambaran bagaimana pertanyaan-pertanyaan diberikan dari sudut pandang pengalaman penulis sebagai objek penerima pertanyaan serupa, “kapan mau punya anak?”.  Mengapa seseorang terus merasa seperti ingin berperan dalam kehidupan kita? Sekalipun jawaban yang keluar dari mulut kita dirasa tidak begitu ideal bagi hidup mereka, lantas apakah akan mengurangi jatah makan mereka? Lagi-lagi ketika berhadapan dengan kata tanya “kapan?” Kita secenayang itukah untuk memberikan gambaran masa depan dan membaca garis takdir masa depan? Bukan hanya memberikan rasa tidak nyaman didengar, tetapi memberikan pressure batin yang tidak tampak, terutama bagi pihak perempuan. Terlebih, jika pertanyaan ini asalnya dari keluarga lelaki, atau dari pihak lelaki itu sendiri.

Doktrin bahwa pernikahan harus langsung dihadirkan anak, apakah di kondisi sekarang cukup ideal? Kita tarik waktu ke belakang sedikit. 

Mengapa kita harus punya anak?

Pertanyaan singkat dengan jawaban yang tidak boleh sederhana. Apakah tujuan pernikahan sesederhana agar punya anak? Lantas, jika tujuan ini tidak tercapai, apakah pernikahan ini akan selesai tanpa mendapatkan makna menikah itu sendiri?

Sebelum menikah bukankah seharusnya kedua belah pihak ini paham hakikat pernikahan itu sendiri? 

Lantas jika ujiannya adalah menjadi pejuang garis dua, pernikahan tidak bisa mencapai tujuannya? Tapi, kamu tahu kan tujuan dan arahnya kemana? Jangan-jangan sekedar melepas status sosial dan menghindari cibiran tetangga? Atau jangan-jangan tujuanmu terburu-buru ingin punya anak agar tidak jadi bahan omongan tetangga juga ya? Padahal tanggung jawabnya seumur hidup loh. Tabunganmu udah sampai dana sekolah dan biaya pendidikan tinggi belum? Oh maaf, biaya nikah kemarin saja belum tertutupi ya? Berani betul mau buru-buru minta anak? Padahal ga selesai sampai kandungan 9 bulan aja si, itu baru awal amanah besar ini diberikan. “Yang penting punya anak dulu deh, rezekinya belakangan ngikut”. In this economy, seriusan masih ada yang pemikirannya sekolot ini? Maksudku dengan usaha yang tidak dia tingkatkan, tenaga yang tidak dikeluarkan ekstra, hanya mengandalkan mata pencarian dari satu sumber saja, bukannya rezeki harusnya dijemput ya? Maunya kerja dikit. Dasar manja. Jangan jadiin anak korban ketidaksiapan mental finansialmu. 

Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, sebagai pengidap endometriosis, tentunya akan ada banyak tantangan dalam menghadapi tuntutan warga ini. Tapi apakah bisa disalahkan sepenuhnya? Wanita selalu dijadikan kambing hitam akibat “kegagalan” memperoleh keturunan. Sudah dicek kualitas sperma lelakinya? Bagaimana gaya hidupnya? Apa yang sering dikonsumsinya? Jam tidurnya? Camilan manis, anti cut gula, kafein, rokok, radiasi elektronik, penggunaan celana ketat, junk food yang jadi snack favorit? Bukankah infertilitas penyumbangnya juga 50% pria? Bagaimana jika justru ia yang imotil? 

Sekali lagi, pressure terberat akan tetap dipikul pihak perempuan. 

Bahkan jahitan masektomi ku belum kering, tetapi orang terdekat tetap memaksakan kalimat tanya ini mendengungi telingaku setiap bertemu di berbagai pertemuan, terkhusus acara keluarga besar. 

Apakah empati mereka telah mati dengan tidak menanyakan kesiapan tubuhku dan kondisi kesehatan terakhirku? Sakitku belum sembuh, rasanya ada yang tumbuh di tempat baru, tetapi diri ini terlalu trauma untuk hadir di meja tindakan itu lagi. Entah seperti apa kini bentuk ovarium yang tersayat sebelah itu, mau dijelaskan pun yang merasakan hebatnya sakit ini cuma diri sendiri. 

Biarkan aku cerita sebentar…

Sudah diperingatkan sebelumnya bahwa tindakan ini berisiko dengan masa pemulihan yang cukup lama. Kami berdua sepakat, begitulah agar cepat tertangani. Tapi satu tahun setelahnya, lelaki ini menuntutku agar berobat untuk promil, aku pikir dia aware terhadap kesehatanku, ternyata tidak. Yang dipikirkannya tetap sama seperti semula, agar cepat punya anak. Padahal akar permasalahannya tidak dijadikannya prioritas. Aku kecewa, bukan karena aku tidak ingin punya anak, tapi ternyata orang yang aku anggap akan selalu hadir menjadi garda terdepan malah menuntut apa yang tidak menjadi kuasaku. Bang? Kamu lebih mengharapkan hal lain dariku daripada keselamatanku? 

Comments

Popular posts from this blog

Our Final Destination

Ya Allah, hamba telah berusaha menjaga diri dari apa-apa yang engkau larang. Berilah hamba kekuatan untuk selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi. Lindungi hamba dari hal buruk yang akan membuat hamba jauh dari-Mu. Perkenankan hamba mendapat balasan yang manis dari-Mu kelak Ya Rabb. Hamba yakin janji-Mu selalu Engkau tepati. Jika kematian baik untukku, maka hamba ikhlas menerima takdir-Mu. Perkenankan hamba menjadi sebaik-baiknya seorang hamba sebelum kembali ke sisi-Mu. Hamba meminta akhir yang baik, dalam keadaan sedang mengingat-Mu dengan setinggi-tingginya iman.  Semoga pada akhirnya nanti, Allah panggil dengan lembut layaknya dalam Surah Al-Fajr ini: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30) “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku .” (QS. Al-Fa...

Seberapa random keluargamu?

Kejadian ter-speechless yang pernah terjadi di rumah. Pernah pas aku mudik, kondisi lagi hujan deras menjelang magrib. “Loh, kok ayah ke masjid?” “Iya kan bentar lagi mau solat maghrib” “Tapi masih deres di luar, solat di rumah aja” “Ntar ga lagi ke masjid, kalau udah meninggal” Deg. Aku dan ibukku saling toleh dan berakhir senyum-senyum sendiri.

As A Wife

Menjalani kehidupan dengan peran baru sebagai seorang istri, sebuah amanah yang tampaknya harus diemban wanita dua puluh empat tahun ini. Dari sepersekian proses adaptasi, mungkin untuk sepenuh hati tunduk kepada suami selama seumur hidup adalah proses belajar yang tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bukan hal mudah bagi dua kepala dengan perbedaan pola asuh dan karakter ini dalam menarik benang merah saat proses penyesuaian berlangsung terutama dalam menyatukan perspektif. Bagaimanapun, tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna. Yang ada ialah mereka yang mampu melengkapi ketidaksempurnaan tersebut dan menjadikannya ideal dengan versinya sendiri. Setiap hari dituntut untuk saling belajar dan mau berbenah diri. Belajar tidak memberi makan ego, belajar bagaimana komunikasi efektif, belajar menjadi pendengar, belajar membaca dan memaknai sinyal semesta. Dan sebaik-baiknya tujuan berpasangan adalah bersama-sama memburu cinta Sang Pencipta, bagaimana agar saling back up iman ...