Kenapa orang lain memaksa kita terus agar punya anak? Tulisan ini dibuat sebagai gambaran bagaimana pertanyaan-pertanyaan diberikan dari sudut pandang pengalaman penulis sebagai objek penerima pertanyaan serupa, “kapan mau punya anak?”. Mengapa seseorang terus merasa seperti ingin berperan dalam kehidupan kita? Sekalipun jawaban yang keluar dari mulut kita dirasa tidak begitu ideal bagi hidup mereka, lantas apakah akan mengurangi jatah makan mereka? Lagi-lagi ketika berhadapan dengan kata tanya “kapan?” Kita secenayang itukah untuk memberikan gambaran masa depan dan membaca garis takdir masa depan? Bukan hanya memberikan rasa tidak nyaman didengar, tetapi memberikan pressure batin yang tidak tampak, terutama bagi pihak perempuan. Terlebih, jika pertanyaan ini asalnya dari keluarga lelaki, atau dari pihak lelaki itu sendiri. Doktrin bahwa pernikahan harus langsung dihadirkan anak, apakah di kondisi sekarang cukup ideal? Kita tarik waktu ke belakang sedikit. Mengapa kit...
Jika kau tak suka membaca, minimal cari pasangan yang suka membaca. Biarkan di tengah kebisingan dunia, ada seseorang yang tahu cara menenangkan suara, membuka buku, dan meletakkan makna di meja makan. Mungkin kamu membaca Pendidikan Kaum Tertindas, lalu melihatku seperti Paulo Freire melihat murid-muridnya—bukan sebagai wadah yang kosong, tapi sebagai manusia yang sedang berkembang. Dari situ kau tahu, bahwa cinta tidak hanya mengisi hati, tapi juga memberi rasa bebas. Biarkan... ketika matamu lelah dan tertutup, ia menyerukan pelajaran dari The Little Prince, bahwa hal-hal yang penting sering kali tidak terlihat dengan mata. Dan kau mulai tahu, betapa dunia selalu mengajarkan kita untuk mengukur segala sesuatu, tapi lupa mengajarkan cara merasakan hal itu. la hadir bukan untuk memberimu petunjuk, melainkan keberanian untuk tersesat tanpa takut kehilangan diri. Biarlah, ketika hidup terasa sempit, ada seseorang yang menatapmu dengan mata yang baru saja kembali dari perjalanan panjang—...