Mendengar kabar kematian seorang yang perantaranya adalah karena kanker membuatku teringat kepada Ibu as a cancer survivor . Ibuku adalah bukti bahwa Allah telah mengirimkan salah satu mukjizatnya kepadaku. Allah pasti lebih tahu bahwa aku memang belum bisa mandiri, belum bisa apa-apa tanpa seorang ibu. Lebih dari 15 tahun berlalu, ternyata harapan hidup yang kecil itu tetap ada. Ibuku ternyata pejuang hebat nan tangguh. Aku pun tak pernah tahu dan tak pernah diberi tahu sebelumnya apa saja yang telah beliau lewati. Mungkin karena mereka menggangapku masih kecil saat itu, semua kejadian ini tidak ada yang menceritakan padaku. Padahal di umur sepuluh tahunan itu aku sudah paham sedikit, kan? Padahal aku ingat awal diagnosa dan Ibu mengadukan keluhan sakitnya. Padahal aku ingat bentuk gambar x-ray atau CT Scan nya, aku pun masih ingat wajah ibu ketika botak. Sedikit mengagetkan dan lucu. Tetapi kenapa aku tidak dilibatkan dalam semua rangkaian proses pengobatannya ya? Tapi yang mengenask...
Kenapa orang lain memaksa kita terus agar punya anak? Tulisan ini dibuat sebagai gambaran bagaimana pertanyaan-pertanyaan diberikan dari sudut pandang pengalaman penulis sebagai objek penerima pertanyaan serupa, “kapan mau punya anak?”. Mengapa seseorang terus merasa seperti ingin berperan dalam kehidupan kita? Sekalipun jawaban yang keluar dari mulut kita dirasa tidak begitu ideal bagi hidup mereka, lantas apakah akan mengurangi jatah makan mereka? Lagi-lagi ketika berhadapan dengan kata tanya “kapan?” Kita secenayang itukah untuk memberikan gambaran masa depan dan membaca garis takdir masa depan? Bukan hanya memberikan rasa tidak nyaman didengar, tetapi memberikan pressure batin yang tidak tampak, terutama bagi pihak perempuan. Terlebih, jika pertanyaan ini asalnya dari keluarga lelaki, atau dari pihak lelaki itu sendiri. Doktrin bahwa pernikahan harus langsung dihadirkan anak, apakah di kondisi sekarang cukup ideal? Kita tarik waktu ke belakang sedikit. Mengapa kit...