Jika kau tak suka membaca, minimal cari pasangan yang suka membaca. Biarkan di tengah kebisingan dunia, ada seseorang yang tahu cara menenangkan suara, membuka buku, dan meletakkan makna di meja makan. Mungkin kamu membaca Pendidikan Kaum Tertindas, lalu melihatku seperti Paulo Freire melihat murid-muridnya—bukan sebagai wadah yang kosong, tapi sebagai manusia yang sedang berkembang. Dari situ kau tahu, bahwa cinta tidak hanya mengisi hati, tapi juga memberi rasa bebas. Biarkan... ketika matamu lelah dan tertutup, ia menyerukan pelajaran dari The Little Prince, bahwa hal-hal yang penting sering kali tidak terlihat dengan mata. Dan kau mulai tahu, betapa dunia selalu mengajarkan kita untuk mengukur segala sesuatu, tapi lupa mengajarkan cara merasakan hal itu. la hadir bukan untuk memberimu petunjuk, melainkan keberanian untuk tersesat tanpa takut kehilangan diri. Biarlah, ketika hidup terasa sempit, ada seseorang yang menatapmu dengan mata yang baru saja kembali dari perjalanan panjang—...
Menjalani kehidupan dengan peran baru sebagai seorang istri, sebuah amanah yang tampaknya harus diemban wanita dua puluh empat tahun ini. Dari sepersekian proses adaptasi, mungkin untuk sepenuh hati tunduk kepada suami selama seumur hidup adalah proses belajar yang tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bukan hal mudah bagi dua kepala dengan perbedaan pola asuh dan karakter ini dalam menarik benang merah saat proses penyesuaian berlangsung terutama dalam menyatukan perspektif. Bagaimanapun, tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna. Yang ada ialah mereka yang mampu melengkapi ketidaksempurnaan tersebut dan menjadikannya ideal dengan versinya sendiri. Setiap hari dituntut untuk saling belajar dan mau berbenah diri. Belajar tidak memberi makan ego, belajar bagaimana komunikasi efektif, belajar menjadi pendengar, belajar membaca dan memaknai sinyal semesta. Dan sebaik-baiknya tujuan berpasangan adalah bersama-sama memburu cinta Sang Pencipta, bagaimana agar saling back up iman ...