Jika kau tak suka membaca, minimal cari pasangan yang suka membaca.
Biarkan di tengah kebisingan dunia, ada seseorang yang tahu cara menenangkan suara, membuka buku, dan meletakkan makna di meja makan.
Mungkin kamu membaca Pendidikan Kaum Tertindas, lalu melihatku seperti Paulo Freire melihat murid-muridnya—bukan sebagai wadah yang kosong, tapi sebagai manusia yang sedang berkembang.
Dari situ kau tahu, bahwa cinta tidak hanya mengisi hati, tapi juga memberi rasa bebas.
Biarkan... ketika matamu lelah dan tertutup, ia menyerukan pelajaran dari The Little Prince, bahwa hal-hal yang penting sering kali tidak terlihat dengan mata.
Dan kau mulai tahu, betapa dunia selalu mengajarkan kita untuk mengukur segala sesuatu, tapi lupa mengajarkan cara merasakan hal itu.
la hadir bukan untuk memberimu petunjuk, melainkan keberanian untuk tersesat tanpa takut kehilangan diri.
Biarlah, ketika hidup terasa sempit, ada seseorang yang menatapmu dengan mata yang baru saja kembali dari perjalanan panjang—baik itu lewat Dostoyevsky maupun Rumi.
Tatapan itu membuatmu menyadari, bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang membatasi, melainkan jalan untuk memahami dengan lebih dalam.
Dalam diam itu, kau menyadari: ada buku yang dibaca untuk memahami, ada yang dibaca hanya untuk bertahan.
Biarkan ada seseorang yang tahu bahwa waktu bukanlah musuh, tapi teman yang menguji kesabaran, seperti yang ia pelajari dari novel Siddhartha karya Hermann Hesse.
Tidak tahu bahwa setiap orang memiliki aliran airnya sendiri—mengalir, berputar, dan akhirnya mencapai lautan.
Dan kau akan belajar, bukan semua yang tenang berarti diam, bukan semua yang deras berarti maju.
Biarkan ada seseorang yang mengerti bahwa dunia ini terbentuk dari cerita-cerita yang kita turunkan, ubah, atau hadapi.
Dari Buku Seratus Tahun Keheningan, ia tahu bahwa sebuah keluarga bisa mewariskan cinta atau kesalahan, dan kita bisa memilih apa yang akan diteruskan.
Di sisi lain, kau menyadari bahwa mencintai bukan hanya tentang memegang tangan, tetapi juga tentang menulis ulang nasib.
Biar... ketika kau terjatuh dalam kekecewaan, ia tahu cara memegang hatimu seperti Man's Search for Meaning yang memegang hati para pembacanya—dengan kejujuran, bukan dengan janji yang palsu.
Maka nanti akan mengingatkanmu bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi selalu memberi kesempatan untuk menemukan maknanya.
Dan makna itu, kadang, menjadi alasan kamu bangun di pagi hari.
Biar ada seseorang yang tahu bahwa percakapan tidak selalu harus berakhir malam itu juga—seperti dialog yang panjang dalam Anna.
Karenina yang dibiarkan mengendap di halaman berikutnya.
La akan memberi jeda, menciptakan ruang, dan menunggu sampai kata-kata benar-benar muncul dari hati.
Dari situ, kau tahu bahwa cinta juga butuh tanda baca.
Biarkan ada seseorang yang percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari sebuah kalimat kecil yang tepat.
Seperti tahun 1984, yang mengingatkan kita bahwa kebebasan dimulai dari bahasa yang kita jaga.
Dan di samping itu, kau akan lebih berhati-hati dalam memilih kata—bukan karena takut, tapi karena menyadari bahwa kata-kata adalah fondasi dari masa depan.
Biarkan dia menjadi saksi bahwa bahkan di hari yang paling berantakan, ada satu halaman yang bisa menyusun kembali pikiran.
Orang akan tahu bahwa jeda di tengah kesibukan bukan berarti malas, tapi cara untuk menjaga kondisi jiwa.
Dan perlahan-lahan, kau mulai membuka buku-buku itu bukan karena dipaksa, tapi karena ingin ikut duduk di dunia yang ia cintai.
Jika kalian berdua tidak suka membaca, dunia akan terasa semakin sempit dan selalu sama setiap hari.
Pembicaraan hanya berulang tentang cuaca, harga, dan gosip yang mudah memudar. Tidak ada yang datang untuk menggoyang pikiran, tidak ada yang pergi membawa kisah baru.
Dan perlahan-lahan, kalian mulai lupa bahwa hidup bisa memiliki lebih dari satu warna.
Jika kalian berdua tidak suka membaca, kalian akan tua dengan mata yang dulu pernah bersinar tapi kini sudah redup.
Bukan karena tidak ada cinta lagi, tapi karena tidak ada lagi keinginan untuk tahu. Tidak ada perjalanan ke tempat jauh melalui kata-kata, tidak ada pertarungan ide yang memancarkan sinar.
Hanya kebiasaan yang perlahan merusak, sedikit demi sedikit, sampai kalian lupa kapan terakhir kali merasa terkagum.
Jika kalian berdua tidak menyukai membaca, kalian akan tertinggal di masa kini yang tidak dalam.
Tidak paham sejarah, tidak berani bayangkan masa depan. Hidup hanya terasa seperti mengulang-ulang, seperti memutar kaset yang sama setiap hari hingga pita itu aus.
Dan mungkin kalian akan berpikir itu biasa—karena tidak ada satupun dari kalian yang pernah melihat kemungkinan yang lain.
Jika kalian berdua tidak suka membaca, kalian akan kehilangan kemampuan untuk bertanya.
Setiap pertanyaan yang seharusnya membuka dunia justru mati di tenggorokan.
Hidup terasa seperti berjalan di lorong yang panjang, tidak ada pintu, tidak ada cahaya, dan tidak ada alasan untuk berhenti.
Dan mungkin, itu cara paling perlahan untuk berhenti hidup sebelum benar-benar mati.
Ini bukan tentang menganggap pembaca buku lebih hebat daripada orang lain. Tidak.
Kamu mungkin bisa mendapatkan hal yang sama seperti dalam buku, tapi cara lain seperti melalui perjalanan, obrolan yang lama, atau luka yang mengajarkanmu untuk diam.
Tapi dari buku, ada ketebalan yang tidak terburu-buru, ada ruang sunyi di mana pikiranmu bisa menyelam tanpa batas.
Dan kalau kau tidak melewati hal itu, bukan berarti kau kalah... cuma mungkin kau akan terus melihat dunia dari jendela yang sama saja.
Comments
Post a Comment