Kenapa orang lain memaksa kita terus agar punya anak? Tulisan ini dibuat sebagai gambaran bagaimana pertanyaan-pertanyaan diberikan dari sudut pandang pengalaman penulis sebagai objek penerima pertanyaan serupa, “kapan mau punya anak?”. Mengapa seseorang terus merasa seperti ingin berperan dalam kehidupan kita? Sekalipun jawaban yang keluar dari mulut kita dirasa tidak begitu ideal bagi hidup mereka, lantas apakah akan mengurangi jatah makan mereka? Lagi-lagi ketika berhadapan dengan kata tanya “kapan?” Kita secenayang itukah untuk memberikan gambaran masa depan dan membaca garis takdir masa depan? Bukan hanya memberikan rasa tidak nyaman didengar, tetapi memberikan pressure batin yang tidak tampak, terutama bagi pihak perempuan. Terlebih, jika pertanyaan ini asalnya dari keluarga lelaki, atau dari pihak lelaki itu sendiri. Doktrin bahwa pernikahan harus langsung dihadirkan anak, apakah di kondisi sekarang cukup ideal? Kita tarik waktu ke belakang sedikit. Mengapa kit...
Kerena lewat tulisan, kita dapat abadi.