Skip to main content

Seseorang datang padaku

Menghanyutkanku dalam ceritanya.

"Aku ingin seperti kalian. Aku iri."

Katanya berkali-kali kepadaku lirih. Matanya berkaca-kaca.

Mataku berkaca-kaca

"Capek ada di keadaan ini terus. Melihat orang tua berselisih, iri rasanya lihat keluarga bisa damai dan rukun."

Anak ini datang rupanya untuk menyadarkanku, menampar dan membuatku malu karena telah banyak mengeluh. Aku yang kurang bersyukur, sedangkan ada orang yang ingin sekali berada di posisiku.

Aku menatapnya haru. Mencoba memposisikan diri sebagai dirinya, ah sungguh berat. Masalah perekonomian sudah cukup membuat Ia paham kerasnya kehidupan. Menggantungkan nasib di Ibukota, memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan. Satu-satunya opsi tepatnya. Ditambah lagi peliknya masalah keluarga.


Ah, maafkan aku Tuhan

Keluhku sudah banyak terucap

Comments

Popular posts from this blog

 Sebenarnya siapa yang perlu dikasihani? Orang-orang Palestina telah jelas memperoleh tiket ke syurga dengan cara syahid. Sementara kita belum tau nanti akhir hidupnya seperti apa 😭
 How many times ‎do you need to be told ‎that God is close to you ‎before your heart is reassured? ‎His words, ‎“Surely I am near” ‎are preserved for eternity. ‎So when your heart quivers  ‎with uncertainty ‎look no further than His Book. ‎You can read it ‎a million times ‎and still find Him telling you ‎“Surely, I am near.” ‎“تَÙˆَÙƒُّÙ„”