Skip to main content

Stigma

Kita hidup di lingkungan dengan stigma bahwa "angka" menjadi tolak ukur keberhasilan. 

Bahwa sukses kuliah adalah yang mendapatkan IPK cumlaude. 

Bahwa sukses di dunia kerja adalah yang bergaji di atas lima juta. 

Bahwa ideal adalah yang menikah di umur sekian.

Didikan perihal angka ini sebenarnya ada sejak kita masih belia. Kita diajarkan untuk mendapatkan Rangking di kelas dengan nilai memuaskan, tidak peduli melalui jalan apa. Yang diajarkan adalah bagaimana hasil akhirnya bagus, bukan jalan menyelesaikan masalah itu sendiri. Tidak sedikit orang tua yang memandang buruk anaknya yang memiliki nilai matematika di bawah rata-rata, sedangkan dalam hal lain ia solutif dalam pemecahan masalah, kritis dan punya nilai sosial lain yang ada dalam dirinya. 

Sebenarnya untuk masuk ke lingkungan masyarakat, kita tidak perlu banyak menguras tenaga perihal adaptasi. Hanya saja tanggapan mereka terhadap kita yang sering membebani pikiran. Tuntutan untuk memenuhi ekspektasi mereka yang kadangkala membuat kita insecure. 

Kita tidak bisa memenuhi semua permintaan itu. Semua orang memiliki jalur mereka sendiri dan waktu tempuh yang telah ditentukan. Semua punya radar yang tidak sama. 

Comments

Popular posts from this blog

 Sebenarnya siapa yang perlu dikasihani? Orang-orang Palestina telah jelas memperoleh tiket ke syurga dengan cara syahid. Sementara kita belum tau nanti akhir hidupnya seperti apa 😭
 How many times ‎do you need to be told ‎that God is close to you ‎before your heart is reassured? ‎His words, ‎“Surely I am near” ‎are preserved for eternity. ‎So when your heart quivers  ‎with uncertainty ‎look no further than His Book. ‎You can read it ‎a million times ‎and still find Him telling you ‎“Surely, I am near.” ‎“تَوَكُّل”